Jelang Kongres IPNU-IPPNU, Gus Rozin Tekankan Pentingnya Kaderisasi Pelajar
![]() |
| Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin) mendorong IPNU dan IPPNU memperkuat kaderisasi pelajar menjelang Kongres IPNU XXI dan IPPNU XX. |
JENDELAPELAJAR.OR.ID — Menjelang Kongres IPNU XXI dan IPPNU XX, perhatian terhadap arah gerakan organisasi pelajar Nahdlatul Ulama kembali mengemuka. Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin mengingatkan IPNU dan IPPNU agar tidak kehilangan fokus utama sebagai organisasi kaderisasi pelajar.
Menurut Gus Rozin, penguatan kaderisasi harus menjadi prioritas di tengah dinamika organisasi yang terus berkembang. Basis pelajar di sekolah dan pesantren dinilai tetap menjadi ruang strategis untuk menyiapkan kader-kader muda Nahdlatul Ulama.
Pesan tersebut disampaikan Gus Rozin dalam pembekalan di Gedung PWNU Jawa Tengah. Ia juga mendorong terbangunnya sinergi yang lebih kuat antara PWNU, badan otonom, serta struktur IPNU dan IPPNU di berbagai tingkatan.
Kaderisasi Pelajar Jangan Sampai Terpinggirkan
Gus Rozin menilai perlu ada perhatian lebih terhadap kaderisasi di tingkat pelajar. Perluasan ruang gerak organisasi memang penting, tetapi jangan sampai membuat sekolah dan pesantren sebagai basis kaderisasi justru kehilangan perhatian.
Ia mendorong IPNU dan IPPNU memperkuat komisariat di sekolah dan pesantren. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan membangun kolaborasi bersama Lembaga Pendidikan Ma’arif NU dan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI).
Potensinya sangat besar. Di Jawa Tengah terdapat ribuan sekolah dalam jaringan Ma’arif NU serta pesantren yang dapat menjadi ruang pengembangan kaderisasi.
“Harus lebih fokus pada level pelajar. Di Jawa Tengah saja ada empat ribuan sekolah Ma’arif dan pesantren yang belum sepenuhnya terjangkau,” ujar Gus Rozin.
Penguatan komisariat menjadi penting karena kaderisasi tidak cukup hanya berlangsung di tingkat cabang atau wilayah. Organisasi perlu hadir lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari pelajar.
Dari komisariat, kader dapat memperoleh ruang untuk belajar berorganisasi, mengembangkan kepemimpinan, membangun jejaring, sekaligus memahami nilai-nilai ke-NU-an.
Bukan Sekadar Banyak Program
Gus Rozin juga mengingatkan pengurus IPNU dan IPPNU agar realistis dalam menyusun program kerja. Masa khidmat organisasi yang terbatas harus menjadi pertimbangan ketika menentukan target dan agenda kepengurusan.
Menurutnya, sebuah kepengurusan membutuhkan waktu untuk melakukan konsolidasi setelah pelantikan. Di sisi lain, pengurus juga harus mempersiapkan agenda organisasi berikutnya.
Karena itu, program kerja tidak seharusnya hanya berorientasi pada banyaknya kegiatan. Yang lebih penting adalah memastikan program tersebut memiliki dampak nyata terhadap kader dan dapat diteruskan oleh kepengurusan berikutnya.
Kaderisasi yang berkelanjutan, menurutnya, jauh lebih penting daripada sekadar mengejar banyaknya agenda seremonial.
Gus Rozin Ingatkan Bahaya Kooptasi Politik
Hal lain yang menjadi sorotan Gus Rozin adalah soal kemandirian organisasi. Ia meminta kader IPNU dan IPPNU memiliki karakter yang kuat sehingga tidak mudah terseret kepentingan di luar tujuan utama organisasi.
Gus Rozin secara khusus mengingatkan agar kader tidak meniru praktik-praktik yang dinilai kurang baik dari organisasi yang lebih senior, termasuk ketika organisasi mulai bersinggungan dengan kepentingan politik.
“Hal-hal yang kurang baik di rumah orang tua kita atau kakak-kakak kita tidak usah ditiru. Lepaskan diri dari kooptasi politik. IPNU dan IPPNU harus membangun karakter yang kuat,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi penting karena IPNU dan IPPNU merupakan ruang pembentukan karakter generasi muda. Organisasi pelajar NU dituntut mampu menjadi tempat kader belajar kepemimpinan dan pengabdian tanpa kehilangan independensi.
Kongres Bukan Hanya Pergantian Kepemimpinan
Kongres IPNU XXI dan IPPNU XX yang akan berlangsung di Jawa Tengah pada November 2026 menjadi momentum penting untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus menentukan arah gerakan ke depan.
Kongres diharapkan tidak berhenti pada persoalan pergantian kepemimpinan. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi kesempatan untuk menjawab tantangan kaderisasi pelajar di tengah perubahan zaman.
Penguatan komisariat, perluasan basis kader di sekolah dan pesantren, sinergi dengan ekosistem pendidikan NU, serta penguatan karakter organisasi menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan perhatian bersama.
Bagi IPNU dan IPPNU, kembali memperkuat akar kaderisasi berarti memastikan organisasi tetap dekat dengan pelajar.
Sebab, masa depan organisasi bukan hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin di tingkat atas, tetapi juga oleh seberapa kuat kaderisasi berlangsung di tingkat paling bawah.
Dari sekolah, pesantren, dan ruang-ruang pelajar itulah kader masa depan NU tumbuh.
(Anisa/risalahnu.com)
