Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

PWNU Jateng Dorong IPNU dan IPPNU Konversi Modal Sosial Menjadi Kemandirian Ekonomi Umat

 


Semarang, jendelapelajar.or.id


Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah menegaskan pentingnya konsolidasi organisasi dan penguatan ekonomi berbasis massa bagi generasi muda Nahdlatul Ulama. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua PWNU Jawa Tengah, KH Kholison pada saat membuka acara Rapat Pimpinan Wilayah (Rapimwil) ke III PW IPNU dan IPPNU Jawa Tengah yang berlangsung pada Jumat–Sabtu (30–31/10/2026) di Balai Diklat Keagamaan Kota Semarang.


Dalam pengarahannya, Kiai Kholison mengapresiasi tinggi kegigihan para kader muda yang terus berjuang melestarikan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah hingga ke pelosok daerah. Dedikasi kader di kawasan terpencil seperti Petungkriyono di Pekalongan hingga dinamika perjuangan kader di luar Pulau Jawa seperti Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, menjadi bukti nyata betapa luas dan kuatnya jejaring keumatan yang dimiliki oleh organisasi.


Wakil Ketua PWNU Jateng tersebut menggarisbawahi bahwa, kekuatan utama Nahdlatul Ulama terletak pada modal sosial (social capital) yang sangat melimpah. Jumlah warga Nahdliyin yang mencapai puluhan juta jiwa di Jawa Tengah merupakan potensi strategis yang tidak dimiliki oleh organisasi lain. Potensi nyata gerakan gotong royong ini dicontohkan melalui keberhasilan pembebasan lahan dan pembangunan gedung Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) di Kecamatan Ngablak, kawasan lereng Gunung Telomoyo. Meskipun harga tanah mencapai Rp1.250.000 per meter, proses pembangunan dapat terealisasi secara bertahap melalui iuran dan kepedulian jemaah.


"Kekuatan terbesar NU itu ada pada modal sosialnya yang melimpah. Bayangkan, kalau jutaan warga Nahdliyin di Jawa Tengah ini mau konsisten iuran gerakan Rp1.000 saja per bulan, kita tidak perlu bergantung pada siapa pun. Secara finansial, kemandirian NU akan jauh melampaui organisasi mana pun," ujar Kiai Kholison.


Kendati demikian, tantangan terbesar yang dihadapi warga Nahdliyin saat ini adalah belum optimalnya konversi kekuatan sosial tersebut menjadi kekuatan ekonomi yang solid. Kiai Kholison menyoroti realitas bahwa tanpa fondasi ekonomi yang mandiri, kekuatan massa yang besar akan sangat rentan patah di tengah jalan, terutama ketika berhadapan dengan dinamika politik praktis maupun tantangan zaman.


"Massa kita banyak, tetapi masalah besarnya adalah kita sering gagal mengonversi kekuatan sosial ini menjadi kekuatan ekonomi. Begitu tidak punya ketahanan ekonomi, perjuangan politik kita akan mudah selesai dan kalah oleh serangan fajar. Ini tantangan besar yang harus dipikirkan oleh adik-adik IPNU dan IPPNU," tegasnya.


Oleh karena itu, kader IPNU dan IPPNU diminta untuk melangkah lebih jauh. Pelajar NU tidak hanya dituntut aktif mengkaji keilmuan agama dan membendung paham radikalisme, tetapi juga harus peka terhadap tantangan riil di lapangan. Generasi muda NU diimbau mulai memikirkan formulasi program kerja yang berdampak langsung pada pemberdayaan ekonomi masyarakat di akar rumput.


Di akhir sambutan, PWNU Jawa Tengah menekankan agar seluruh napas perjuangan kader tetap berada dalam koridor meneladani easulullah Shalallahu alaihi wasallam serta menjaga komitmen kebangsaan. Kader IPNU dan IPPNU diharapkan mampu bertransformasi menjadi penggerak ekonomi masa depan yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing tinggi.


Pewarta : Miftahul Khoir