28 Tahun Eksis, Festival Maulid Remaja Masjid Agung Demak Kembali Semarakkan Bulan Maulid
DEMAK, jendelapelajar.or.id
Festival Maulid ke-28 yang digelar Remaja Masjid Agung Demak resmi dibuka dengan meriah pada Minggu, 30 Agustus 2026, di halaman Masjid Agung Demak. Agenda tahunan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan bulan Maulid ini kembali menghadirkan lomba rebana klasik Demak-an sekaligus membuka ruang kreativitas baru melalui lomba vlog dan dokumenter.
Selama 28 tahun penyelenggaraannya, Festival Maulid Remaja Masjid Agung Demak konsisten menjadi salah satu agenda yang menarik perhatian masyarakat. Tidak hanya grup-grup rebana di Kabupaten Demak, kegiatan ini juga menjadi ruang berkumpul dan bersilaturahmi bagi masyarakat.
Kemasan kegiatan tahun ini hadir dengan inovasi baru. Selain perlombaan secara langsung, panitia turut membuka lomba berbasis digital berupa vlog dan dokumenter dengan tema “Jejak Sejarah dan Potensi Masjid Agung Demak.” Langkah tersebut menjadi upaya panitia untuk memperluas ruang partisipasi sekaligus mendorong kreativitas generasi muda melalui media digital.
Rangkaian acara dimulai pukul 08.00 WIB dengan pembacaan Ummul Kitab. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh Ustadz Nasrul Ulum, serta pembacaan tahlil dan istighosah.
Setelah rangkaian pembukaan, acara dilanjutkan dengan sambutan dari sejumlah tamu undangan. Salah satunya disampaikan Ketua Takmir Masjid Agung Demak, KH. Abdullah Makhali, S.E. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pesan dan apresiasi terhadap penyelenggaraan Festival Maulid serta memberikan semangat kepada Remaja Masjid Agung Demak untuk terus menjaga dan mengembangkan kegiatan positif tersebut.
Sambutan berikutnya disampaikan H. Ali Musthofa, S.Ag., selaku Kepala Bimas Islam Kementerian Agama Kabupaten Demak. Ia memberikan apresiasi atas dedikasi Remaja Masjid Agung Demak dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut.
“Terima kasih atas dedikasi Remaja Masjid Agung Demak, itu menjadi tumpuan kita semua,” ujar H. Ali Musthofa.
Beliau juga berpesan kepada seluruh pihak yang terlibat agar senantiasa menjaga integritas dan marwah Masjid Agung Demak.
Festival Maulid ke-28 kemudian resmi dibuka oleh Ketua Takmir Masjid Agung Demak yang ditandai dengan pemukulan gong. Suasana semakin meriah dengan penampilan sekitar 10 grup rebana yang mengikuti perlombaan.
Tahun ini, lomba mengusung konsep rebana klasik Demak-an dengan lagu wajib Lir-Ilir. Para peserta menampilkan lantunan lagu yang dipadukan dengan pukulan tabuh khas Demak.
Peserta yang mengikuti perlombaan pun berasal dari berbagai kalangan. Tidak hanya pelajar dan anak muda, grup rebana yang beranggotakan ibu-ibu juga turut menunjukkan antusiasmenya untuk berpartisipasi dalam Festival Maulid tahun ini.
Setelah seluruh peserta menyelesaikan penampilannya, panitia mengumumkan para pemenang lomba rebana. Juara pertama diraih Grup Rebana Al-Anjam dengan total nilai 794. Juara kedua diraih Grup Rebana Areska dengan nilai 791, sedangkan juara ketiga diraih Grup Rebana Nurul Musthofa dengan nilai 766.
Sementara itu, lomba vlog dan dokumenter dengan tema “Jejak Sejarah dan Potensi Masjid Agung Demak” diumumkan melalui kanal YouTube Remaja Masjid Agung Demak.
Untuk kategori tersebut, juara pertama diraih Eva Triyani dengan total nilai 90. Juara kedua diraih Almas Nova Restu Nurlyansah dengan nilai 89, sedangkan juara ketiga diraih Eva Julianti dengan nilai 88.
Memasuki sesi penutupan, masing-masing perwakilan pemenang dipanggil ke atas panggung untuk menerima penghargaan sekaligus mengikuti sesi dokumentasi.
Festival Maulid ke-28 tidak sekadar menjadi ajang perlombaan. Bagi Remaja Masjid Agung Demak, kegiatan tersebut menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyalurkan bakat, melestarikan seni rebana khas Demak, mengembangkan kreativitas di era digital, sekaligus mempererat silaturahmi antara panitia, peserta dan masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, para peserta diharapkan menjadikan setiap perlombaan sebagai ruang untuk belajar, berlatih dan mengasah kemampuan diri. Festival Maulid pun diharapkan dapat terus menjadi agenda yang mampu menjaga tradisi sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Penulis: Saffana MutiaraEditor: M. Syamsul Ma'arif
Photo: Dok. Media Remasade
