Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mencetak Generasi Amaliyah NU : Konsistensi SMPS Nurussalam Mranggen dalam Literasi Pelatihan Tahlil Setiap Rabu dan Praktik Harian

MRANGGEN, DEMAK – Di tengah gempuran arus modernisasi, SMPS Nurussalam Mranggen, Demak, justru semakin memperkokoh akar tradisi keislaman bagi para pesertanya. Melalui program inovatif bertajuk "Literasi Keagamaan dan Kepemimpinan Tahlil," sekolah ini berhasil membuktikan bahwa pendidikan karakter bukan hanya soal teori di dalam kelas, melainkan pembiasaan nyata yang dilakukan secara konsisten.


SMPS Nurussalam Mranggen terus memperkuat karakter religius siswanya melalui program literasi keagamaan yang unik. Bukan sekadar materi di kelas, sekolah ini mewajibkan para siswa untuk praktik langsung memimpin tahlil secara bergilir setiap hari setelah pelaksanaan Sholat Dhuha berjamaah.

​Pelatihan Intensif Setiap Rabu

Kunci keberanian para siswa ini terletak pada program pelatihan rutin yang digelar setiap hari Rabu. Dalam sesi ini, para guru pembimbing memberikan pembekalan mendalam mengenai tata cara, urutan, hingga makhroj (pelafalan) yang benar dalam memimpin tahlil.

​Aplikasi Nyata Setelah Dhuha

Ilmu yang didapat pada hari Rabu tidak dibiarkan menguap begitu saja. Setiap pagi, setelah Sholat Dhuha, suasana masjid sekolah menjadi saksi keberanian siswa. Berdasarkan jadwal yang telah disusun, setiap siswa mendapatkan jatah untuk menjadi imam tahlil di depan rekan-rekan dan gurunya.

​"Kami ingin siswa kami tidak hanya pintar secara akademik, tapi juga mahir dalam kegiatan kemasyarakatan. Dengan latihan tahlil setiap Rabu dan praktik setiap hari setelah Dhuha, mental memimpin mereka akan terbentuk secara alami," ujar Ibu Wiji Siswati, S.T., S.Pd. Kepala sekolah SMPS Nurussalam.

​Membangun Kepercayaan Diri

Sistem "jatah jadwal" ini memastikan semua siswa, tanpa terkecuali, merasakan pengalaman menjadi pemimpin. Program ini diharapkan dapat mencetak lulusan yang siap terjun ke masyarakat sebagai penggerak kegiatan keagamaan di lingkungan masing-masing.

​Program ini bukan sekadar kegiatan tambahan (ekstrakurikuler), melainkan sudah menjadi bagian dari ekosistem pendidikan di SMPS Nurussalam. Ada dua tahapan utama yang membuat program ini unggul: Pelatihan Teoritik pada hari Rabu dan Aplikasi Praktik Harian pasca Sholat Dhuha.

Materi yang diberikan sangat komprehensif, meliputi:

​1. Adabul Khidmah: Bagaimana adab seorang pemimpin tahlil saat berhadapan dengan jamaah.

​2. Tartil dan Makhraj: Penekanan pada kebenaran pelafalan ayat-ayat Al-Qur'an dan kalimat thayyibah.

​3. Urutan (Kaifiyah): Pemahaman urutan mulai dari tawasul (hadhoroh), pembacaan Yasin, tahlil, hingga doa penutup yang sempurna.

​4. Mentalitas: Tips mengatasi rasa gugup atau demam panggung saat tampil di depan umum.

5. Praktik Mandiri: Setiap Hari Setelah Sholat Dhuha.

​Keunikan program di SMPS Nurussalam terletak pada sistem "Jadwal Bergilir". Ilmu yang didapatkan pada hari Rabu langsung diuji secara nyata setiap hari setelah pelaksanaan Sholat Dhuha berjamaah.

​Sekolah menyusun jadwal piket imam tahlil secara sistematis. Dengan cara ini, setiap siswa tanpa terkecuali akan mendapatkan giliran untuk memegang pengeras suara dan memimpin ratusan rekan-rekannya serta para guru.

​"Kami tidak ingin ada siswa yang hanya menjadi penonton. Dengan memberikan jatah jadwal, kami memaksa setiap anak untuk keluar dari zona nyaman mereka. Hasilnya luar biasa, siswa yang tadinya pemalu, kini sudah lantang saat memimpin tahlil," - Pembimbing Literasi

​Menyiapkan Kader di Masyarakat

​Secara geografis, Mranggen dan sekitarnya adalah wilayah yang kental dengan tradisi keagamaan. Masyarakat sering mengadakan kegiatan tahlilan, baik dalam acara syukur maupun duka. SMPS Nurussalam menangkap peluang ini agar lulusannya memiliki nilai tawar lebih.

​Ketika siswa kembali ke desa masing-masing, mereka tidak lagi canggung jika diminta tokoh masyarakat untuk memimpin doa. Ini adalah bentuk nyata dari pengabdian sekolah terhadap kebutuhan masyarakat (Community Service).